The Dictator
Poster The Dictator

Produser: Sacha Baron Cohen, Alec Berg, Jeff Schaffer, David Mandel, Anthony Hines, Scott Rudin, Todd Schulman

Sutradara: Larry Charles

Penulis: Sacha Baron Cohen, Alec Berg, Jeff Schaffer, David Mandel

Pemain: Sacha Baron Cohen, Anna Faris, Ben Kingsley, John C. Reilly, Jason Mantzoukas

Film ini secara kualitas dan komedi patut diacungi jempol. Sacha Baron Cohen memang pantas diacungi jempol atas aktingnya sebagai sang diktator. Tapi secara konten, film ini memang terkesan sebagai film propaganda yang sangat kasar. Rasisme bertebaran sepanjang film ini berjalan. Jika melihat pada kehidupan nyata, banyak yang mengatakan bahwa film ini merupakan kritik terhadap sebuah negera kecil di Afrika yang bernama Eritrea dengan sistem otoriatarian dan kediktatoran sang pemimpin.

Sinopsis The Dictator

Selama bertahun-tahun, Republik Wadiya (terletak di Tanduk Afrika, menggantikan bangsa sebenarnya Eritrea) dipimpin oleh Laksamana Jenderal Haffaz Aladeen (Sacha Baron Cohen), seorang yang kekanak-kanakan, tirani, seksis, anti-Barat, dan despot antisemitisme yang mengelilingi dirinya dengan pengawal perempuan, mensponsori al-Qaeda (memberikan perlindungan bagi Osama Bin Laden setelah) dan bekerja pada pengembangan senjata nuklir untuk menyerang Israel. Ia seorang yang sangat khas dengan jenggot lebatnya. Aladeen juga menolak untuk menjual ladang minyak negeri Wadiya ini, demi melaksanakan pesan yang dibuat oleh ayahnya di ranjang kematiannya. Setelah Dewan Keamanan PBB memutuskan untuk campur tangan secara militer, Aladeen pun memutuskan ke Markas Besar PBB di New York.

Tak lama setelah tiba, Aladeen diculik oleh Clayton (John C. Reilly), pembunuh bayaran yang sebenarnya disewa oleh pamannya, Tamir (Ben Kingsley). Tamir kemudian mengganti Aladeen dengan seorang yang sangat mirip dengannya yang bernama Efawadh. Tamir bermaksud untuk memanipulasi penandatanganan dokumen nominal demokratisasi Wadiya agar dapat membuka ladang minyak negara itu untuk Cina dan lainnya untuk kepentingan asing. Aladeen berhasil lolos dari Clayton yang malah membunuh dirinya sendiri. Namun, sebelumnya Clayton berhasil mencukur habis jenggot Aladeen. Dengan demikian, tak ada orang yang tahu siapa Aladeen sebenarnya. Melihat berita kebakaran, Tamir berpikir Aladeen telah tewas.

Mengembara di New York, Aladeen pertemuan Zoey (Anna Faris), seorang aktivis hak asasi manusia yang menawarkan dia pekerjaan padanya. Aladeen menolak tawaran dan tanpa sengaja bertemu dengan Nadal (Jason Mantzoukas), mantan kepala program senjata nuklir Wadiya. Dulu semasa masih di Wadiya, Aladeen pernah memerintahkan eksekusi mati untuk Nadal karena menolak permintaan Aladeen. Aladeen mengikutinya ke sebuah kedai bernama “Little Wadiya” yang dihuni oleh pengungsi dari negaranya—yang sebetulnya orang yang pernah dieksekusi.

Karena perbuatan bodohnya, Aladeen pun dengan mudah dikenali orang-orang di Little Wadiya tersebut. Ia hampir dibunuh oleh mereka sampai akhirnya diselamatkan oleh Nadal. Nadal memberitahu Aladeen bahwa semua orang yang pernah dieksekusi Aladeen berada di Little Wadiya dan tidak dibunuh, karena sang algojo sangat anti padanya.

Aladeen pun meminta Nadal untuk membantunya meraih kembali posisinya sebagai pemimpin Wadiya. Nadal setuju untuk membantu Aladeen menggagalkan rencana Tamir dan mendapatkan kembali posisinya sebagai diktator ‘sah’, dengan syarat bahwa Aladeen membuatnya ketua program nuklir Wadiya lagi.

Aladeen pun akhirnya mau menerima tawaran pekerjaan Zoey, agar ia mendapatkan akses untuk ke hotel tempat rombongan dari Wadiya menginap. Aladeen yang mengaku bernama Alison Burgers ini menjadi lebih dekat dengan Zoey setelah dia menolak ajakan seksual dan mengajarkan kepadanya bagaimana masturbasi, dan akhirnya malah jatuh cinta. Demi Zoey, Aladeen mulai mengatur ulang toko  milik Zoey menjadi terkoordinasi dengan baik. Zoey pun senang dengan kinerja Aladeen.

Namun, hubungan Aladeen dengan Zoey menjadi buruk setelah ia menyatakan cinta dan mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah Aladeen sang diktator. Zoey pun menolak cinta Aladeen karena tidak bisa mencintai seorang pria yang begitu brutal untuk rakyatnya sendiri.

Aladeen patah hati dan ingin dibunuh diri sebelum akhirnya berhasil diselamatkan Nadal lagi dengan mengatakan bahwa ia adalah diktator terhebat yang pernah ada.

Setelah mendapatkan jenggot palsu, Aladeen pergi ke hotel dan meminta Efawadh—yang sebenarnya idiot—untuk segera pergi. Pada upacara penandatanganan, ia mengatakan bahwa  Tamir seorang penipu di depan delegasi PBB. Penandatangan dokumen perubahan sistem demokrasi di Wadiya pun batal. Aladeen malah menlanjutkan dengan pidato berapi-api memuji kebajikan dari kediktatoran. Namun, setelah melihat Zoey di dalam ruangan, ia menyatakan cintanya dan mengetahui Zoey sangat berpandangan, bersumpah untuk demokrasi bagi negaranya dan membuka ladang minyak Wadiya untuk bisnis. Marah dengan Aladeen, Tamir berusaha untuk membunuh dia tapi Efawadh melompat untuk melindungi Aladeen yang membut Efawadh tertembak.

Setahun kemudian, Wadiya melaksanakan pemilu demokratis untuk pertama kalinya, meskipun warga dipaksa mendukung Aladeen. Setelah itu, ia menikahi Zoey, tapi terkejut ketika dia menghancurkan kaca dan mengungkapkan Zoey adalah seorang Yahudi. Padahal  sepanjang film Aladeen ditampilkan bersumpah untuk “menghancurkan Israel”. Adegan selama kredit menunjukkan konvoi Aladeen ini, sekarang terdiri dari mobil ramah lingkungan, mengunjungi Nadal kembali. Kemudian Zoey mengungkapkan dalam sebuah wawancara televisi bahwa dia hamil tengah anak pertama. Aladeen menanggapi kabar itu dengan menanyakan apakah Zoey ingin memiliki anak laki-laki atau aborsi.

Berikut Trailer The Dictator

Iklan